Selasa, 15 November 2022

REFLEKSI PERJALANAN TAMAN SISWA

 

KILAS BALIK TAMAN SISWA

 

Ketidakpuasan menyelimuti semua perasaan orang Bumiputra terhadap penyelenggaraan kebijakan yang dilakukan oleh Belanda sehingga dari latarbelakang kehidupan sosial politik ini Ki Hajar Dewantara memiliki pemikiran yang jauh ke depankeadaan tersebut terhadap . Ide dasar dari pemikiran para pejuang kemerdekaan saat itu adalah untuk mengambil kembali hak-hak Bumiputra sebagai pemilik tanah air. Sejalan dengan itu Ki Hajar Dewantara memiliki pemikiran yaitu bagaimana caranya orang-orang Bumiputra mendapat kesempatan berupa kesetaraan secara sosial politik dalam masyarakat colonial. Pemerintah kolonial resisten terhadap pergerakan yang dapat memunculkan rasa nasionalisme.

 

Partisipasi Ki Hajar Dewantara dalam gerakan Budi Utomo sangat panjang perjalananya dalam perjuangan politik. Secara singkat gerakan Budi Utomo mendapat dukungan dari gerakan Indische Partij .Kolaborasi antara indo dan Bumiputra dilakukan supaya pergerakan politik dapat merangkul berbagai masa baik itu pribumi maupun kaum Indo yang tersisih dari pergaulan kaum totok atau belanda murni.

Sementara itu tiga serangkai membentuk komite bumiputra dengan pemain utamanya adalah Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara menulis karangan yang monumental yaitu “Seandainya aku orang Belanda”. Tulisan dari karangan tersebut secara singkat berisikan kritik terhadap pemerintah kolonial yang akan melaksanakan perayaan 100 tahun kemerdekaan Netherland atas terbebasnya dari penjajahan Perancis namun dengan biaya pribumi. Terhadap tindakan tersebut akhirnya pemerintah kolonial membuang Ki Hajar Dewantara ke negeri kincir angin selama 6 tahun.

Fleksibilitas kaum pergerakan untuk menyuarakan jalan politik menunjukan bahwa pergerakan yang dilakukan oleh Ki Hajar Dewantara merupakan gerakan yang multifaset. Pergerakan tersebut bukan hanya diusahakan melalui bidang politik akan tetapi melalui unsur social dan kultural yaitu pendidikan. Perjuagan yang alot melawan pemerintah kolonial telah mendewasakan Ki Hajar Dewantara sehingga semakin matang dalam melawan penjajah.

Melihat keadaan yang sedemikian alot yang dilakukan dalam bidang sosial dan kultural Ki Hajar Dewantara berusaha melakukan perjuangan diluar pemerintahan kolonial yaitu melalui pendidikan. Ki hajar Dewantara memilih mendirikan sekolah Taman Siswa yang berjiwa ketimuran tapi dengan model sekolah ke barat-baratan.

Ki Hajar Dewantara mengkombinasikan pembelajaran yang berasal dari sekolah Maria Montesori (Italia) dan Rabindranath Tagore. Lalu dari mengadaptasi dua sistem yang diterapkan oleh sekolah tersebut muncul istilah Patrap Guru. Patrap Guru merupakan sikap yang harus ada dalam diri guru selaku panutan murid-murid dan masyarakat. Istilah tersebut menjadi pegangan dalam keberlanjutan sekolah Taman Siswa. Istilah tersebut yaitu : Ing ngarsa sung tulada (di muka memberi contoh), Ing madya mangun karsa (di tengah membangun cita-cita), Tut wuri handayani (mengikuti dan mendukungnya).

***

Pendidikan saat ini berada pada posisi tercepatnya akulturasi kebudayaan, dimana hampir tidak ada sekat antara satu negara dengan negara lain yang memungkinkan terjadinya pertukaran budaya. posisi tersebut mengartikan adanya perubahan secara derastis terhadap proses penyelenggaraan pendidikan. pendidikan saat ini berada pada fase kemudahan, yaitu dengan adanya akses yang mudah terhadap informasi. Guru masih dengan nilai-nilai yang sama seperti pada masa-masa taman siswa hanya saja dengan tema perjuangan yang telah berubah.

Tema abad 21 memungkinkan terjadinya distorsi berbagai nilai-nilai luhur dari pendidikan apabila dalam penyelenggaraanya tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh. Tingkat kepelikan yang terjadi apabila tidak dirunut oleh seorang guru maka akan menjadi bumerang bagi dirinya yang selanjutnya akan berdampak pada siswa.

Pendidikan Indonesia mengalami bangun lebur. Pendidikan Indonesia terus mengikuti dinamika kehidupan berbagai situasi pra kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan sampai saat ini. Proses Pendidikan tidak lepas dari kondisi nuture dan nature serta zamanya. Saat ini Pendidikan berada di zaman digital yang mengedepankan kemudahan akses informasi. Pendidikan di zaman digital berorientasi pada Pendidikan abad 21.

Guru sebagai ujung tombak Pendidikan secara penghayatan adalah pelaku pejuang kemerdekaan apabila di lihat saat Indonesia belum merdeka. Saat ini guru telah bergeser tugas dan kewajibanya menuju ke arah yang lebih kompleks. Komplesitas tersebut adalah konsekuensi logis dari perjalanan zaman yang mengarah pada Pendidikan abad 21. Siswa sebagai subjek Pendidikan pun juga mengalami hal yang serupa. Orientasi perkembangan peserta didik tidak lagi memandang kemampuan kognitif sebagai jaminan keberhasilan siswa melainkan ia hanya pendukung dari beberapa domain yang saling terkait. Siswa dikatan berhasil apabila ia mampu menemukan potensi dirinya, sadar akan kemampuanya, peduli terhadap lingkungan dan diri sendiri serta mampu membawa perubahan kea rah yang lebih baik. Dibandingkan Pendidikan pada masa pra kemerdekaan, Pendidikan saat ini tidak memandang hasil akhir sebagai acuan keberhasilan dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran tidak lagi bersifat linier akan tetapi berupa siklus yang berbentuk spiral mengarah ke perubahan baik. Pada Pembelajaran yang bersifat linier hasil akhir mutlak digunakan sebagai acuan kelulusan, sementara pembelajaran yang bersifat siklus artinya baik pelaksanaan, penilaian semuanya adalah satu kesatuan yang dapat digunakan sebagai parameter kelulusan.

Memandang proses sebagai indicator peninilaian merupakan pengejawantahan dari “ing madya mbangun karsa”. Di tengah menguatkan adalah orientasi growth mindset atau maindset berkembang. Guru mengelola siswa supaya memiliki pemikiran yang menunjukan sikap ingin terus belajar. Motivasi ingin terus belajar dapat ditumbuhkan dengan mengelola pembelajaran yang membuka pikiran siswa sehingga siswa tidak menutup diri untuk terus mengoreksi keterbatasanya. Keterbatasan siswa dianggap sebagai kemungkinan kelemahan yang harus di gali lagi peluang-peluang untuk menjadi kelebihanya.

Kurikulum di Indonesia mengalami dinamika yang luar biasa akan tetapi jiwa dari Pendidikan Indonesia tetaplah berporos pada budaya yang sama yaitu pemikiran yang dikembangkan oleh pejuang Pendidikan Indonesia. Salah satu pejuang Pendidikan itu ialah Ki Hajar Dewantara.


 

 

REFLEKSI DIRI TERHADAP PENGALAMAN BERSEKOLAH

 

 

Pada saat saya masih berada di bangku SMA kelas X saya terkena penyakit mata yang sangat menyulitkan saya untuk belajar sehingga ketika memasuki kelas XI saya sangat lemah dalam beberapa mata pelajaran seperti kimia dan fisika. Saya masih meraskan bekas penyakitnya sampai mendekati kelas XII hingga pada momen tertentu saya memutuskan untuk mengejar ketertinggalan. Moment yang sangat menginspirasi saya adalah moment ketika saya mendengar beberapa nasehat dari seorang guru. Salah satu nasihat yang masih saya ingat adalah tentang pentingnya olahraga pagi sebelum berangkat sekolah. Beberapa kata yang sederhana namun didengar tepat ketika saya sedang membutuhkan dorongan. Meski tidak terlihat hubungan yang jelas antara belajar dengan olahraga pagi akan tetapi setelah saya jalani saya merasakan banyak perubahan. Meski mata saya sulit untuk melihat terlalu lama tulisan bukan berarti saya harus membiarkan diri tanpa solusi. Saya memilih untuk melatih fisik agar ketika belajar badan menjadi lebih bugar dan lebih fokus menerima pelajaran.

Banyak ketertinggalan yang harus di kejar dan saya hanya mengandalkan belajar dengan metode dini hari supaya selepas Isya saya bisa beristirahat. Menurut saya belajar pada waktu dini hari terbukti efisien meski hanya 2 atau 3 jam. Meski hanya mengandalkan waktu dini hari saya pun turut mencari tahu banyak penyelesaian soal melalui internet. Beberapa vonis yang sangat membuat kecewa adalah saya diprediksi gagal lulus SMA. Terutama oleh guru kimia yang sebenarnya saya sangat memperhatikan pemaparanya. Namun berkat rasa percaya diri yang mulai tumbuh pada akhirnya saya mampu memperbaiki nilai dan mendapat predikat yang memiliki nilai meningkat.

            Di sela-sela ketertinggalan saya dalam mata pelajaran, saya berusaha menghibur diri dengan sesekali menyambangi anak social yang berbeda topic bahasan. Dari sana saya menemui sosok guru yang unik. Saat itu saya masih dibangku SMA kelas XI, pada waktu itu saya mengambil kepeminatan sains. Disela-sela waktu istirahat saya selalu menyenpatkan diri untuk mampir di kelas social. Sambil pura-pura bertanya sedang ada kesibukan apa atau hanya sekedar mengajak teman-teman bermain gitar. Disisi lain saya berusaha mengikuti tema pembahasan pelajaran mereka, meski tak seberapa. Beberapa tema yang saya minati seperti bentuk permukaan bumi, bentuk kenampakan alam dan sejarah gunung berapi.

            Beberapa hal menarik seperti cerita tugas-tugas obeservasi lapangan dan ceramah-ceramah tentang keadaan alam disekitar sekolah sampai pada kelakarnya yang selalu kritis ketika bertanya kepada siswa selalu menjadi hiburan sekaligus dorongan untuk saya. Barangkali itulah yang menginspirasi alam bawah sadar saya untuk mengikuti jejaknya. Pada saat itu bukan kepada geografinya melainkan pribadinya yang unik. Beberapa fakta menarik setelah saya selesai studi S1 yaitu saat saya berkunjung ke rumah beliau untuk bersilaturahmi. Ternyata premis saya benar selama ini, beliau adalah aktivis pecinta alam IKIP Yogyakarta dan saya telah mendapati diri saya juga sebagai alumni Organisasi yang sama.

            Beberapa karakter yang disepuh di organisasi tersebut mengandung unsur penerapan ilmu Pedagogi yang sangat relevan dengan kepeminatan saya dibidang pendidikan olahraga. Tidak menutup kemungkinan saya pun melalui wadah dengan proses yang hampir serupa. Dengan tanpa mengatakan saya telah menduplikasinya sebenarnya saya dibentuk diwadah yang serupa. Beberapa pengalaman seperti mengadakan kelas, mentoring dan kegiatan luar ruangan sering saya lakukan sehingga menambah khazanah perjalanan saya dalam menggali mental atau jiwa siswa.

Untuk menjadi guru yang ideal perlu mempertajam kemampuan kognisinya yaitu kemampuan menghubungkan satu konsep dengan konsep lain sehingga muncul sesuatu yang unik dan menarik. Melalui berbagai perjalanan intelektual guru perlu menyadari bahwa tidak ada siswa yang perlu dipaksa untuk belajar tetapi juga tidak ada guru yang berlepas diri untuk tidak belajar mendalami jiwa siswa. Dengan tanpa diminta, seorang guru harus selalu mengevaluasi kemampuanya sehingga harapanya bisa menunjukan karakter ideal. Salah satu karakter yang baik adalah mengerti kemampuan kompetensi siswa. Dengan mengerti akan hal tersebut seorang guru dalam praktiknya selalu memperhatikan tingkat pencapaian siswa sehingga siswa dapat menjalankan tugasnya sesuai kapasitasnya.


 

 


 

REFLEKSI DAN PEMAHAMAN BARU

Kurikulum adalah bagian teknis dari penyelenggaraan Pendidikan sementara konsep dan teori selalu berakar pada filosofi Pendidikan yang pernah dicetuskan oleh para pendahulu pejuang Pendidikan. Pendidikan selalu berakar pada kodrat alam dan kodrat zamanya, maksudnya adalah factor yang mempengaruhi tumbuh kembag anak baik dari pikiran maupun tindakan adalah factor tempat dimana anak itu dibesarkan serta berada.

Pendidikan olahraga merupakan bidang yang berorientasi pada perkembangan gerak siswa. Melalui domain psikomotor siswa dididik supaya memiliki pengetahuan dan sikap yang baik. Domain tersebut apabila dikaitkan dengan filosofi yang menjadi rujukan KHD maka berada pada olah rasa dan raga. Melalui olah rasa dan raga siswa diharap mampu menggali potensi dirinya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa olah raga adalah media yang digunaakn untuk mengembangkan kemampuan dasar siwa berupa kognitif, psikomotorik dan afektif.

Olah raga dengan tambahan kata pendidikan merupakan bentuk lain dari olahraga sebagai pendidikan. Tentunya pendidikan olahraga tidak semata mengajarkan kemampuan motoric atau kognitif akan tetapi terdapat kemampuan afektif yang perlu dikembangkan berupa penerapan nilai-nilai budi pekerti.

Pancasila sebagai pengikat dari sapu lidi merupakan peribaratan akan kondisi alam dan zaman di Indonesia yang beraneka ragam suku, budaya dan adat istiadat. Melalui pancasila setiap individu dapat memaknai nilai-nilai yang sesuai dengan keadaan alam dan budayanya. Sehingga tidak menutup kemungkinan ikatan dari sapu lidi tersebut menjadi obsesi dari pendidikan saat ini yaitu profil pelajar pancasila.

Saat ini pendidikan harus terintegrasi denga profil pelajar pancasila. Wacana tersebut bukan merupakan slogan saja akan tetapi guru sebagai stalkholder pendidikan harus benar-benar memahami dimana penghayatan nilai tersebut dapat di implementasikan. Pendidikan yang sesuai dengan wacana implementasi profil pelajar pancasila tentunya bukan doktrinasi melainkan refleksi yang dihadirka dalam diri siswa.

Mengapa orientasi pendidikan harus mengintegrasikan dengan profil pelajar pancasila. Hemat kami adalah kemampuan kognitif saja tidak cukup untuk menjadikan individu siswa mampu bertahan di tengah terpaan peradaban abad 21 yang mana kemampuan IQ tidak lagi dijadikan parameter kesuksesan. Individu yang memiliki kecerdasan emosional lebih mampu beradaptasi di era abad 21 karena kebijakan yang dihadirkan didalam diri mampu membimbing individu untuk keluar dari berbagai masalah kehidupan. Kecerdasan emosional merupakan kemampuan individu dalam memenejemen emosi dan tidak hanya tahu harus berbuat apa akan tetapi tahu harus kemana.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar