KILAS BALIK TAMAN SISWA
Ketidakpuasan
menyelimuti semua perasaan orang Bumiputra terhadap penyelenggaraan kebijakan
yang dilakukan oleh Belanda sehingga dari latarbelakang kehidupan sosial
politik ini Ki Hajar Dewantara memiliki pemikiran yang jauh ke depankeadaan
tersebut terhadap . Ide dasar dari pemikiran para pejuang kemerdekaan saat itu
adalah untuk mengambil kembali hak-hak Bumiputra sebagai pemilik tanah air.
Sejalan dengan itu Ki Hajar Dewantara memiliki pemikiran yaitu bagaimana
caranya orang-orang Bumiputra mendapat kesempatan berupa kesetaraan secara
sosial politik dalam masyarakat colonial. Pemerintah kolonial resisten terhadap
pergerakan yang dapat memunculkan rasa nasionalisme.
Partisipasi Ki Hajar
Dewantara dalam gerakan Budi Utomo sangat panjang perjalananya dalam perjuangan
politik. Secara singkat gerakan Budi Utomo mendapat dukungan dari gerakan Indische
Partij .Kolaborasi antara indo dan Bumiputra dilakukan supaya pergerakan
politik dapat merangkul berbagai masa baik itu pribumi maupun kaum Indo yang
tersisih dari pergaulan kaum totok atau belanda murni.
Sementara itu tiga
serangkai membentuk komite bumiputra dengan pemain utamanya adalah Ki Hajar
Dewantara. Ki Hajar Dewantara menulis karangan yang monumental yaitu
“Seandainya aku orang Belanda”. Tulisan dari karangan tersebut secara singkat
berisikan kritik terhadap pemerintah kolonial yang akan melaksanakan perayaan
100 tahun kemerdekaan Netherland atas terbebasnya dari penjajahan Perancis
namun dengan biaya pribumi. Terhadap tindakan tersebut akhirnya pemerintah
kolonial membuang Ki Hajar Dewantara ke negeri kincir angin selama 6 tahun.
Fleksibilitas kaum
pergerakan untuk menyuarakan jalan politik menunjukan bahwa pergerakan yang
dilakukan oleh Ki Hajar Dewantara merupakan gerakan yang multifaset. Pergerakan
tersebut bukan hanya diusahakan melalui bidang politik akan tetapi melalui
unsur social dan kultural yaitu pendidikan. Perjuagan yang alot melawan
pemerintah kolonial telah mendewasakan Ki Hajar Dewantara sehingga semakin
matang dalam melawan penjajah.
Melihat keadaan yang
sedemikian alot yang dilakukan dalam bidang sosial dan kultural Ki Hajar
Dewantara berusaha melakukan perjuangan diluar pemerintahan kolonial yaitu
melalui pendidikan. Ki hajar Dewantara memilih mendirikan sekolah Taman Siswa
yang berjiwa ketimuran tapi dengan model sekolah ke barat-baratan.
Ki Hajar Dewantara
mengkombinasikan pembelajaran yang berasal dari sekolah Maria Montesori
(Italia) dan Rabindranath Tagore. Lalu dari mengadaptasi dua sistem yang
diterapkan oleh sekolah tersebut muncul istilah Patrap Guru. Patrap Guru
merupakan sikap yang harus ada dalam diri guru selaku panutan murid-murid dan
masyarakat. Istilah tersebut menjadi pegangan dalam keberlanjutan sekolah Taman
Siswa. Istilah tersebut yaitu : Ing ngarsa sung tulada (di muka memberi
contoh), Ing madya mangun karsa (di tengah membangun cita-cita), Tut wuri
handayani (mengikuti dan mendukungnya).
***
Pendidikan saat ini
berada pada posisi tercepatnya akulturasi kebudayaan, dimana hampir tidak ada
sekat antara satu negara dengan negara lain yang memungkinkan terjadinya
pertukaran budaya. posisi tersebut mengartikan adanya perubahan secara derastis
terhadap proses penyelenggaraan pendidikan. pendidikan saat ini berada pada
fase kemudahan, yaitu dengan adanya akses yang mudah terhadap informasi. Guru
masih dengan nilai-nilai yang sama seperti pada masa-masa taman siswa hanya saja
dengan tema perjuangan yang telah berubah.
Tema abad 21
memungkinkan terjadinya distorsi berbagai nilai-nilai luhur dari pendidikan
apabila dalam penyelenggaraanya tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh. Tingkat
kepelikan yang terjadi apabila tidak dirunut oleh seorang guru maka akan
menjadi bumerang bagi dirinya yang selanjutnya akan berdampak pada siswa.
Pendidikan Indonesia
mengalami bangun lebur. Pendidikan Indonesia terus mengikuti dinamika kehidupan
berbagai situasi pra kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan sampai saat ini.
Proses Pendidikan tidak lepas dari kondisi nuture dan nature serta zamanya.
Saat ini Pendidikan berada di zaman digital yang mengedepankan kemudahan akses
informasi. Pendidikan di zaman digital berorientasi pada Pendidikan abad 21.
Guru sebagai ujung
tombak Pendidikan secara penghayatan adalah pelaku pejuang kemerdekaan apabila
di lihat saat Indonesia belum merdeka. Saat ini guru telah bergeser tugas dan
kewajibanya menuju ke arah yang lebih kompleks. Komplesitas tersebut adalah
konsekuensi logis dari perjalanan zaman yang mengarah pada Pendidikan abad 21.
Siswa sebagai subjek Pendidikan pun juga mengalami hal yang serupa. Orientasi
perkembangan peserta didik tidak lagi memandang kemampuan kognitif sebagai
jaminan keberhasilan siswa melainkan ia hanya pendukung dari beberapa domain
yang saling terkait. Siswa dikatan berhasil apabila ia mampu menemukan potensi
dirinya, sadar akan kemampuanya, peduli terhadap lingkungan dan diri sendiri
serta mampu membawa perubahan kea rah yang lebih baik. Dibandingkan Pendidikan
pada masa pra kemerdekaan, Pendidikan saat ini tidak memandang hasil akhir
sebagai acuan keberhasilan dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran tidak
lagi bersifat linier akan tetapi berupa siklus yang berbentuk spiral mengarah
ke perubahan baik. Pada Pembelajaran yang bersifat linier hasil akhir mutlak
digunakan sebagai acuan kelulusan, sementara pembelajaran yang bersifat siklus
artinya baik pelaksanaan, penilaian semuanya adalah satu kesatuan yang dapat
digunakan sebagai parameter kelulusan.
Memandang proses sebagai
indicator peninilaian merupakan pengejawantahan dari “ing madya mbangun karsa”.
Di tengah menguatkan adalah orientasi growth mindset atau maindset berkembang.
Guru mengelola siswa supaya memiliki pemikiran yang menunjukan sikap ingin
terus belajar. Motivasi ingin terus belajar dapat ditumbuhkan dengan mengelola
pembelajaran yang membuka pikiran siswa sehingga siswa tidak menutup diri untuk
terus mengoreksi keterbatasanya. Keterbatasan siswa dianggap sebagai
kemungkinan kelemahan yang harus di gali lagi peluang-peluang untuk menjadi
kelebihanya.
Kurikulum di Indonesia
mengalami dinamika yang luar biasa akan tetapi jiwa dari Pendidikan Indonesia
tetaplah berporos pada budaya yang sama yaitu pemikiran yang dikembangkan oleh
pejuang Pendidikan Indonesia. Salah satu pejuang Pendidikan itu ialah Ki Hajar
Dewantara.
REFLEKSI DIRI TERHADAP PENGALAMAN
BERSEKOLAH
Pada saat saya masih berada di
bangku SMA kelas X saya terkena penyakit mata yang sangat menyulitkan saya
untuk belajar sehingga ketika memasuki kelas XI saya sangat lemah dalam
beberapa mata pelajaran seperti kimia dan fisika. Saya masih meraskan bekas
penyakitnya sampai mendekati kelas XII hingga pada momen tertentu saya
memutuskan untuk mengejar ketertinggalan. Moment yang sangat menginspirasi saya
adalah moment ketika saya mendengar beberapa nasehat dari seorang guru. Salah
satu nasihat yang masih saya ingat adalah tentang pentingnya olahraga pagi
sebelum berangkat sekolah. Beberapa kata yang sederhana namun didengar tepat
ketika saya sedang membutuhkan dorongan. Meski tidak terlihat hubungan yang
jelas antara belajar dengan olahraga pagi akan tetapi setelah saya jalani saya
merasakan banyak perubahan. Meski mata saya sulit untuk melihat terlalu lama
tulisan bukan berarti saya harus membiarkan diri tanpa solusi. Saya memilih
untuk melatih fisik agar ketika belajar badan menjadi lebih bugar dan lebih
fokus menerima pelajaran.
Banyak ketertinggalan yang harus di
kejar dan saya hanya mengandalkan belajar dengan metode dini hari supaya
selepas Isya saya bisa beristirahat. Menurut saya belajar pada waktu dini hari
terbukti efisien meski hanya 2 atau 3 jam. Meski hanya mengandalkan waktu dini
hari saya pun turut mencari tahu banyak penyelesaian soal melalui internet.
Beberapa vonis yang sangat membuat kecewa adalah saya diprediksi gagal lulus
SMA. Terutama oleh guru kimia yang sebenarnya saya sangat memperhatikan
pemaparanya. Namun berkat rasa percaya diri yang mulai tumbuh pada akhirnya
saya mampu memperbaiki nilai dan mendapat predikat yang memiliki nilai
meningkat.
Di
sela-sela ketertinggalan saya dalam mata pelajaran, saya berusaha menghibur
diri dengan sesekali menyambangi anak social yang berbeda topic bahasan. Dari
sana saya menemui sosok guru yang unik. Saat itu saya masih dibangku SMA kelas
XI, pada waktu itu saya mengambil kepeminatan sains. Disela-sela waktu
istirahat saya selalu menyenpatkan diri untuk mampir di kelas social. Sambil
pura-pura bertanya sedang ada kesibukan apa atau hanya sekedar mengajak
teman-teman bermain gitar. Disisi lain saya berusaha mengikuti tema pembahasan
pelajaran mereka, meski tak seberapa. Beberapa tema yang saya minati seperti
bentuk permukaan bumi, bentuk kenampakan alam dan sejarah gunung berapi.
Beberapa
hal menarik seperti cerita tugas-tugas obeservasi lapangan dan ceramah-ceramah
tentang keadaan alam disekitar sekolah sampai pada kelakarnya yang selalu
kritis ketika bertanya kepada siswa selalu menjadi hiburan sekaligus dorongan
untuk saya. Barangkali itulah yang menginspirasi alam bawah sadar saya untuk
mengikuti jejaknya. Pada saat itu bukan kepada geografinya melainkan pribadinya
yang unik. Beberapa fakta menarik setelah saya selesai studi S1 yaitu saat saya
berkunjung ke rumah beliau untuk bersilaturahmi. Ternyata premis saya benar
selama ini, beliau adalah aktivis pecinta alam IKIP Yogyakarta dan saya telah
mendapati diri saya juga sebagai alumni Organisasi yang sama.
Beberapa
karakter yang disepuh di organisasi tersebut mengandung unsur penerapan ilmu
Pedagogi yang sangat relevan dengan kepeminatan saya dibidang pendidikan
olahraga. Tidak menutup kemungkinan saya pun melalui wadah dengan proses yang
hampir serupa. Dengan tanpa mengatakan saya telah menduplikasinya sebenarnya
saya dibentuk diwadah yang serupa. Beberapa pengalaman seperti mengadakan
kelas, mentoring dan kegiatan luar ruangan sering saya lakukan sehingga
menambah khazanah perjalanan saya dalam menggali mental atau jiwa siswa.
Untuk menjadi guru yang ideal perlu
mempertajam kemampuan kognisinya yaitu kemampuan menghubungkan satu konsep
dengan konsep lain sehingga muncul sesuatu yang unik dan menarik. Melalui
berbagai perjalanan intelektual guru perlu menyadari bahwa tidak ada siswa yang
perlu dipaksa untuk belajar tetapi juga tidak ada guru yang berlepas diri untuk
tidak belajar mendalami jiwa siswa. Dengan tanpa diminta, seorang guru harus
selalu mengevaluasi kemampuanya sehingga harapanya bisa menunjukan karakter
ideal. Salah satu karakter yang baik adalah mengerti kemampuan kompetensi
siswa. Dengan mengerti akan hal tersebut seorang guru dalam praktiknya selalu
memperhatikan tingkat pencapaian siswa sehingga siswa dapat menjalankan
tugasnya sesuai kapasitasnya.
REFLEKSI DAN PEMAHAMAN BARU
Kurikulum adalah bagian teknis dari
penyelenggaraan Pendidikan sementara konsep dan teori selalu berakar pada
filosofi Pendidikan yang pernah dicetuskan oleh para pendahulu pejuang
Pendidikan. Pendidikan selalu berakar pada kodrat alam dan kodrat zamanya, maksudnya
adalah factor yang mempengaruhi tumbuh kembag anak baik dari pikiran maupun
tindakan adalah factor tempat dimana anak itu dibesarkan serta berada.
Pendidikan olahraga merupakan bidang
yang berorientasi pada perkembangan gerak siswa. Melalui domain psikomotor
siswa dididik supaya memiliki pengetahuan dan sikap yang baik. Domain tersebut
apabila dikaitkan dengan filosofi yang menjadi rujukan KHD maka berada pada
olah rasa dan raga. Melalui olah rasa dan raga siswa diharap mampu menggali
potensi dirinya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa olah raga adalah media
yang digunaakn untuk mengembangkan kemampuan dasar siwa berupa kognitif,
psikomotorik dan afektif.
Olah raga dengan tambahan kata
pendidikan merupakan bentuk lain dari olahraga sebagai pendidikan. Tentunya
pendidikan olahraga tidak semata mengajarkan kemampuan motoric atau kognitif akan
tetapi terdapat kemampuan afektif yang perlu dikembangkan berupa penerapan
nilai-nilai budi pekerti.
Pancasila sebagai pengikat dari sapu
lidi merupakan peribaratan akan kondisi alam dan zaman di Indonesia yang
beraneka ragam suku, budaya dan adat istiadat. Melalui pancasila setiap
individu dapat memaknai nilai-nilai yang sesuai dengan keadaan alam dan
budayanya. Sehingga tidak menutup kemungkinan ikatan dari sapu lidi tersebut
menjadi obsesi dari pendidikan saat ini yaitu profil pelajar pancasila.
Saat ini pendidikan harus
terintegrasi denga profil pelajar pancasila. Wacana tersebut bukan merupakan
slogan saja akan tetapi guru sebagai stalkholder pendidikan harus benar-benar
memahami dimana penghayatan nilai tersebut dapat di implementasikan. Pendidikan
yang sesuai dengan wacana implementasi profil pelajar pancasila tentunya bukan
doktrinasi melainkan refleksi yang dihadirka dalam diri siswa.
Mengapa orientasi pendidikan harus
mengintegrasikan dengan profil pelajar pancasila. Hemat kami adalah kemampuan
kognitif saja tidak cukup untuk menjadikan individu siswa mampu bertahan di
tengah terpaan peradaban abad 21 yang mana kemampuan IQ tidak lagi dijadikan
parameter kesuksesan. Individu yang memiliki kecerdasan emosional lebih mampu
beradaptasi di era abad 21 karena kebijakan yang dihadirkan didalam diri mampu
membimbing individu untuk keluar dari berbagai masalah kehidupan. Kecerdasan emosional
merupakan kemampuan individu dalam memenejemen emosi dan tidak hanya tahu harus
berbuat apa akan tetapi tahu harus kemana.
***