Rabu, 16 November 2022

 

AKSI NYATA

Pendidik maupun peserta didik dituntut untuk aktif menggunakan berbagai media tekologi. Pademi covid memberi dampak yang sangat cepat terhadap penggunaan media pembelajaran. Peran teknologi dan media dalam pembelajaran adalah menjadikan pendidik sebagai fasilitator bagi peserta didik untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Peserta didik dapat mendiskusikan temuan mereka dalam percakapan pada waktu yang sama dengan para ahli dan peserta didik lain di berbagai
budaya dan belahan bumi lainnya. Peran teknologi: memberi sumber informasi belajar, sebagai ilmu pengetahuan yang harus dikuasai olehpeserta didik, sebagai alat bantu pembelajaran. Langkah-langkah apa yang akan dilakukan untuk mewujudkan menjadi guru professional. Perangkat digital memperluas dan meningkatkan kemampuan guru untuk memenuhi berbagai peran dan tanggung jawab yang terkait dengan sosok pendidik. Untukmenjadi guru digital yang profesional, kita dapat melakukan langkah sebagai berikut:

1. Mengerti manfaat dan penggunaan teknologi dalam pembelajaran

2. Berkeinginan untuk belajar dan terbiasa menggunakan teknologi

3. Memiliki semangat untuk mencari teknologi mana yang tepat untuk materi pelajaran tertentu

4. Mampu bersikap bijak dalam menggunakan teknologi dan mengajarkan peserta didik                              melakukan hal yang sama

5. Menggunakan teknologi media yang dapat menarik minat dan motivasi siswa

Bentuk media dan teknologi yang pernah digunakan di sekolah masing-masing adalah google, gawai, proyektor, MS Word, canva, video pembelajaran (rekaman ataupun youtube), meet/zoom, dan masih banyak lagi. Dalam menggunakan ataupun membuat media pembelajaran, perlu mencantumkan sumber untuk menaati kode etik dan hak cipta. Kode etik dan hak cipta dibuat untuk melindungan kepentingan pencipta, produsen, dan distributor karya asli teknologi. Hak Cipta mengacu kepada hak hokum atas suatu karya asli. UU mengatur bahwa ada kondisi dimana setiap orang dapat menyalin, keseluruhan atau sebagian, karya yang asli untuk dapat digunakan dalam media apapun. Penggunaan wajar memberikan pengecualian hak cipta yang penting kepada guru dan peserta didik.


LEMBAR KOMITMEN


Akan berkomitmen untuk:


a. Selalu belajar dan melakukan penyesuaian diri dalam lingkungan belajar yang berubah dengan cepat.

b. Siap untuk mengintegrasikan teknologi, media dan strategi dalam pembelajaran.

c. Menciptakan keterampilan pembelajaran abad 21 pada peserta didik serta beriorientasi pada peserta didik.

d. Membimbing peserta didik agar selalu bijak dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi

e. Menyiapkan peserta didik untuk siap melaksanakan pembelajaran sesuai dengan minat, bakat,
dan karakternya

RUANG LINGKUP PENDIDIKAN ABAD 21

 

A.     Peran Teknologi dan Media dalam Pembelajaran

Keberadaan teknologi harus dimaknai sebagai upaya untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi teknologi tidak dapat dipisahkan dari masalah, karena teknologi lahir dan dikembangkan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh manusia. Berkaitan dengan hal itu, maka teknologi pendidikan juga dipandang sebagai suatu produk dan proses. Dapat disimpulkan bahwa teknologi pendidikan tidak hanya merupakan sebuah ilmu akan tetapi juga sebagai sumber informasi dan sumber belajar yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan yang dapat memfasilitasi proses pembelajaran.

Peran teknologi pada pembelajaran adalah memfasilitasi terbentuknya hubungan secara kolaboratif dan membangun makna dalam konteks yang lebih mudah dipahami. Secara detail, teknologi dapat diarahkan untuk :

1. Membangun jaringan komunikasi kolaboratif antara guru, dosen, siswa dan sumber belajar. Beberapa aplikasi online yang bisa dipakai untuk telekomunikasi adalah skype, yahoo messenger, facebook, zoom, google meet dan jaringan lain yang dipakai.

2. Menyediakan berbagai lingkungan penyelesaian masalah yang rumit, realistik, dan aman. Teknologi yang dapat digunakan untuk menyediakan lingkungan yang nyaman adalah hypermedia & software yang dapat digunakan untuk menciptakan projek.

3. Membangun dan membentuk makna secara aktif melalui internet untuk mencari riset mutakhir, foto, video. Hal ini bisa membantu siswa bukan hanya menikmati penelusuran, melainkan bisa belajar dan memahami serta tahu apa yang dipelajarinya.

 B. Langkah-langkah yang akan Dilakukan untuk Mewujudkan Menjadi Guru Profesional dan Guru Digital

Di era digitalisasi dewasa ini, guru dituntut memiliki kualifikasi yang mendukung proses pembelajaran agar pembelajaran dengan peserta didik menjadi pembelajaran yang berkualitas. Berikut menjadi langkah yang dapat dijalani untuk menjadi guru profesional di era digitalisasi saat ini :

1. Terampil dalam membuat media pembelajaran yang menarik Melalui kreativitas serta keterampilan yang dimiliki, guru mampu menciptakan metode pembelajaran yang menarik dengan menggunakan media visual, audio, maupun audio visual. Guru dapat memanfaatkan berbagai platform pembelajaran yang mudah digunakan, misalnya saja : Phet, Scratch, Miller Lab (VR), Canva, maupun ClassPoint.

2. Memanfaatkan penggunaan media sosial dalam konteks pendidikan Media sosial hampir diakses oleh setiap orang mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, dengan begitu sebagai guru yang memiliki skill digital harus mampu memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi yang menarik dan media pengumpulan tugas seperti di google dan youtube.

3. Mampu menciptakan suasana kelas yang menyenangkan Suasana belajar di kelas yang menyenangkan membuat peserta didik menjadi aktif dan menarik minat yang dapat membuat peserta didik betah belajar di kelas. Misalnya menyelingi pembelajaran dengan bermain game. Guru harus mampu menciptakan game-based learning yang menunjang proses belajar, peserta didik akan terlatih untuk berpikir kritis dengan game yang menyenangkan tersebut.

4. Memiliki keterampilan menggunakan bahasa asing Perkembangan global ini menjadikan guru harus beradaptasi dengan perkembangan global dalam konteks pendidikan. Sehingga keterampilan bahasa asing dibutuhkan oleh seorang guru untuk mencari informasi dari berbagai macam sumber, bahkan sumber dari lintas negara. Dengan begitu guru mampu mempelajari ilmu pengetahuan untuk menciptakan pembelajaran yang lebih beragam dan sesuai dengan perkembangan zaman.

5. Berperan aktif dalam kegiatan MGMP dan kegiatan peningkatan keterampilan lainnya. Guru mengikuti kegiatan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) serta kegiatan pelatihan dari berbagai lembaga pelatihan untuk menambah keterampilan baik keterampilan di bidang Pendidikan Pancasila maupun keterampilan di bidang pengembangan perangkat pembelajaran dan teknologi. Ikut dalam komunitas pendidik di media sosial baik di instagram, telegram atau platfrom lainnya yang menyediakan banyak seminar dan pelatihan tentang perkembangan teknologi.

 C. Bentuk-bentuk Media dan Teknologi yang Pernah Digunakan di Sekolah (SMA)

Teknologi yang Digunakan

Format Media

Bahan Ajar yang

Digunakan

-       E-learning

-       Teks, Video

· - Edmodo, schoology, google class room

-       Big data

-       Teks, Visual

Cloud, google drive

-       Gamification

-       Video

Wordwall, Marbel budaya nusantara,

-       Sosial Media

-       Teks, Video

Youtube, instagram, tik-tok

 Bentuk-bentuk Media dan Teknologi yang Pernah Digunakan di Sekolah (SD)

Teknologi yang Digunakan

Format Media

Bahan Ajar yang

Digunakan

· Laptop

· LCD-Proyektor

· Handphone

· Audio Speaker

· Internet

· Video Pembelajaran (MP4)

· Audio (MP3)

· Visual (JPG/JPEG/PNG)

· Teks (cetak)

· Dokumen soft file dalam bentuk pdf,

doc, excel.

· Buku Paket

· e-book

· Ejurnal

· LKS yang diberikan oleh guru

· Modul pembelajaran

· Materi-materi terkait di internet.

 

 

D.     Kode Etik dan Hak Cipta

Kode etik adalah suatu sistem norma, nilai, dan aturan profesional yang tertulis secara tegas menyatakan hal yang benar dan hal yang tidak benar, serta hal yang baik dan hal yang tidak baik bagi seorang profesional. Kode etik guru juga merupakan perangkat untuk mempertegas kedudukan, tugas dan tanggung jawab serta sekaligus untuk melindungi profesinya. statmen formal yang merupakan norma atau aturan tata susila dalam mengatur tingkah laku guru. jawabnya sebagai tenaga profesional, maka guru harus tetap berpegang pada kode etiknya.

Sementara itu hampir semua orang di dunia ini menggunakan teknologi, terutama handphone. Handphone memiliki banyak fitur yang bisa kita gunakan, mulai dari aplikasi WhatsApp untuk berkomunikasi, ada ruang guru sebagai platform belajar digital, dan lain-lain. Namun, penggunaan teknologi terutaama dalam media sosial tak luput dari banyaknya pelanggaran hak cipta yang masih banyak dihiraukan. Di era digital ini permasalahan utamanya adalah tentang hak cipta. Untuk melindungi kepentingan pencipta, produsen, dan distributor karya asli teknologi informasi dan seni, negara-negara mengadopsi Undang-Undang hak cipta. Hak Cipta mengacu pada hak hukum atas suatu karya asli. UU ini mengatur kondisi dimana setiap orang dapat menyalin, keseluruhan atau sebagian, karya yang asli dapat ditransmisikan dalam media apa pun. Tanpa adanya Undang-Undang Hak Cipta, penulis, seniman, dan produser media tidak akan menerima kompensasi yang pantas mereka dapatkan. Di Indonesia hak cipta sudah diatur dalam Undang-Undang No.28 tahun 2014 tentang Hak Cipta.

 



RUANG KOLABORASI

 TOPIK 2   : Lingkungan Belajar Abad 21

Ahmad Basri Arya Putu Yahya, S.Pd. (6101022252)

Indah Lestari, S.Pd. (6101022299)

Agus Miftah, S.Pd. (6101022248)

Basit Faqihul Ahkam, S.Pd. (6101022337)

 

REFLEKSI TERHADAP PERKEMBANGAN TEKNOLOGI, MEDIA DAN PEMBELAJARAN

 PERKEMBANGAN TEKNOLOGI, MEDIA DAN PEMBELAJARAN

Perkembangan teknologi sangat mempengaruhi perkembangan proses pembelajaran terutama dalam sistem panyampaian melalui pemanfaatan beragam media generasi baru. Dukungan teknologi memungkinkan aktivitas pembelajaran otentik. Perkembangan dan kemajuan teknolgi informasi berjalan sangat cepat. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, penyimpanan dan pengiriman data semakin murah dan semakin baik kualitasnya. Baik individu, institusi, maupun pemerintah ikut melakukan berbagai upaya untuk memanfaatkan perkembangan teknologi informasi ini. Bahkan dalam dunia pendidikan di Indonesia, sudah saatnya kita memanfaatkan teknologi informasi tersebut. Apalagi dengan adanya program school net, jardiknas dan sebagainya, maka seluruh komponen lembaga pendidikan dituntut menyiapkan diri dengan menyiapkan sarana prasarana untuk memanfaatkan perkembangan teknologi informasi tersebut.

Dalam sejarah perkembangan teknologi pembelajaran terjadinya perubahan dan perkembangan dari masa ke masa. Misalnya saja pada masa dahulu belum mengenal teknologi yang canggih seperti: hp, laptop, televisi, dan lain-lain, tetapi sekarang teknologi tersebut sudah tidak asing lagi bagi kita semua. Teknologi tersebut juga sangat membantu kita dalam pembelajaran saat ini. Dimana saat ini sangat dibutuhkan teknologi sesuai kebutuhan masing-masing. Contohnya pada jaman sekarang terdapat belajar jarak jauh. Jadi, tugas guru hanya memberi tugas lewat e-mail dan sebaliknya tugas siswa mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru tanpa harus bertemu.

Dalam pelaksanaannya pembelajaran daring tentunya tidak dapat terlepas dari peran teknologi. Seiring dengan perkembangan zaman teknologi semakin berkembang, saat ini banyak platform yang dapat membantu pelaksaan pembelajaran daring seprti e-learing, Google Clasroom, Edmodo, Moodle, Rumah belajar, dan bahkan platform dalam bentuk video conference sudah semakin banyak diantaranya seperti Google meet, Zoom, dan Visco Webex.

Saat ini manusia telah memasuki peradaban pada abad ke-21 atau abad milenium. Perkembangan dunia saat ini semakin pesat, salah satunya dalam bidang pendidikan. Secara tidak langsung, pembelajaran yang ada dalam dunia pendidikan mengikuti perkembangan pada abadke-21, pada abad ini teknologi informasi secara digital berkembang dengan sangat pesat. Hal ini tak terlepas dari adanya revolusi industri. Hal inilah yang menyebabkan kehidupan manusia memasuki era digital di abad 21 terutama pada bidang pembelajaran.

Teknologi pembelajaran saat ini sangat berpengaruh terhadap siswa. Karena jika tidak adanya suatu teknologi yang digunakan dalam pembelajaran akan mengakibatkan situasi di kelas akan merasa monoton tidak ada daya tarik terhadap siswa itu sendiri. Maka, sekarang terdapat berbagai jenis teknologi yang digunakan dalam penyampaian pembelajaran dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas. Berbagai teknologi mempunyai cara atur tersendiri dan mempunyai manfaat yang sama yaitu untuk mempermudah dalam menyampaikan pembelajaran. Pertama kalinya komputer digunakan dalam bidang pendidikan pada tahun 1980. Semua orang berusaha memanfaatkan komputer secara baik dan sistematis guna untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran. Masyarakat umum sangat antusias dalam menggunakan alat yang dinamakan komputer. Pada saat ini sudah sangat banyak teknologi pembelajaran baru yang ada di Indonesia. Seperti: laptop, televisi, proyektor, dan sebagainya. Karena laptop merupakan sumber teknologi pembelajaran yang dapat dibawa kemana saja dan bersifat praktis tidak seperti komputer yang hanya berdiam di satu ruangan. Selain itu laptop juga harganya sangat terjangkau berbeda jauh dibandingkan dengan komputer.

Hal-hal tersebut merupakan kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik dalam menghadapi era globalisasi serta menghadapi pembelajaran abad 21. Guru sebagai pendidik, mengajar dan juga melatih siswa ialah merupakan sebuah tugas guru sebagai pendidik. Tugas guru pun tidakhanya terbatas dalam mengajar serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada siswa. Lebih dari itu, guru diharapkan dapat mengembangkan keterampilan sehingga dapat diterapkan di masa yang akan datang.


Selasa, 15 November 2022

REFLEKSI PERJALANAN TAMAN SISWA

 

KILAS BALIK TAMAN SISWA

 

Ketidakpuasan menyelimuti semua perasaan orang Bumiputra terhadap penyelenggaraan kebijakan yang dilakukan oleh Belanda sehingga dari latarbelakang kehidupan sosial politik ini Ki Hajar Dewantara memiliki pemikiran yang jauh ke depankeadaan tersebut terhadap . Ide dasar dari pemikiran para pejuang kemerdekaan saat itu adalah untuk mengambil kembali hak-hak Bumiputra sebagai pemilik tanah air. Sejalan dengan itu Ki Hajar Dewantara memiliki pemikiran yaitu bagaimana caranya orang-orang Bumiputra mendapat kesempatan berupa kesetaraan secara sosial politik dalam masyarakat colonial. Pemerintah kolonial resisten terhadap pergerakan yang dapat memunculkan rasa nasionalisme.

 

Partisipasi Ki Hajar Dewantara dalam gerakan Budi Utomo sangat panjang perjalananya dalam perjuangan politik. Secara singkat gerakan Budi Utomo mendapat dukungan dari gerakan Indische Partij .Kolaborasi antara indo dan Bumiputra dilakukan supaya pergerakan politik dapat merangkul berbagai masa baik itu pribumi maupun kaum Indo yang tersisih dari pergaulan kaum totok atau belanda murni.

Sementara itu tiga serangkai membentuk komite bumiputra dengan pemain utamanya adalah Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara menulis karangan yang monumental yaitu “Seandainya aku orang Belanda”. Tulisan dari karangan tersebut secara singkat berisikan kritik terhadap pemerintah kolonial yang akan melaksanakan perayaan 100 tahun kemerdekaan Netherland atas terbebasnya dari penjajahan Perancis namun dengan biaya pribumi. Terhadap tindakan tersebut akhirnya pemerintah kolonial membuang Ki Hajar Dewantara ke negeri kincir angin selama 6 tahun.

Fleksibilitas kaum pergerakan untuk menyuarakan jalan politik menunjukan bahwa pergerakan yang dilakukan oleh Ki Hajar Dewantara merupakan gerakan yang multifaset. Pergerakan tersebut bukan hanya diusahakan melalui bidang politik akan tetapi melalui unsur social dan kultural yaitu pendidikan. Perjuagan yang alot melawan pemerintah kolonial telah mendewasakan Ki Hajar Dewantara sehingga semakin matang dalam melawan penjajah.

Melihat keadaan yang sedemikian alot yang dilakukan dalam bidang sosial dan kultural Ki Hajar Dewantara berusaha melakukan perjuangan diluar pemerintahan kolonial yaitu melalui pendidikan. Ki hajar Dewantara memilih mendirikan sekolah Taman Siswa yang berjiwa ketimuran tapi dengan model sekolah ke barat-baratan.

Ki Hajar Dewantara mengkombinasikan pembelajaran yang berasal dari sekolah Maria Montesori (Italia) dan Rabindranath Tagore. Lalu dari mengadaptasi dua sistem yang diterapkan oleh sekolah tersebut muncul istilah Patrap Guru. Patrap Guru merupakan sikap yang harus ada dalam diri guru selaku panutan murid-murid dan masyarakat. Istilah tersebut menjadi pegangan dalam keberlanjutan sekolah Taman Siswa. Istilah tersebut yaitu : Ing ngarsa sung tulada (di muka memberi contoh), Ing madya mangun karsa (di tengah membangun cita-cita), Tut wuri handayani (mengikuti dan mendukungnya).

***

Pendidikan saat ini berada pada posisi tercepatnya akulturasi kebudayaan, dimana hampir tidak ada sekat antara satu negara dengan negara lain yang memungkinkan terjadinya pertukaran budaya. posisi tersebut mengartikan adanya perubahan secara derastis terhadap proses penyelenggaraan pendidikan. pendidikan saat ini berada pada fase kemudahan, yaitu dengan adanya akses yang mudah terhadap informasi. Guru masih dengan nilai-nilai yang sama seperti pada masa-masa taman siswa hanya saja dengan tema perjuangan yang telah berubah.

Tema abad 21 memungkinkan terjadinya distorsi berbagai nilai-nilai luhur dari pendidikan apabila dalam penyelenggaraanya tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh. Tingkat kepelikan yang terjadi apabila tidak dirunut oleh seorang guru maka akan menjadi bumerang bagi dirinya yang selanjutnya akan berdampak pada siswa.

Pendidikan Indonesia mengalami bangun lebur. Pendidikan Indonesia terus mengikuti dinamika kehidupan berbagai situasi pra kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan sampai saat ini. Proses Pendidikan tidak lepas dari kondisi nuture dan nature serta zamanya. Saat ini Pendidikan berada di zaman digital yang mengedepankan kemudahan akses informasi. Pendidikan di zaman digital berorientasi pada Pendidikan abad 21.

Guru sebagai ujung tombak Pendidikan secara penghayatan adalah pelaku pejuang kemerdekaan apabila di lihat saat Indonesia belum merdeka. Saat ini guru telah bergeser tugas dan kewajibanya menuju ke arah yang lebih kompleks. Komplesitas tersebut adalah konsekuensi logis dari perjalanan zaman yang mengarah pada Pendidikan abad 21. Siswa sebagai subjek Pendidikan pun juga mengalami hal yang serupa. Orientasi perkembangan peserta didik tidak lagi memandang kemampuan kognitif sebagai jaminan keberhasilan siswa melainkan ia hanya pendukung dari beberapa domain yang saling terkait. Siswa dikatan berhasil apabila ia mampu menemukan potensi dirinya, sadar akan kemampuanya, peduli terhadap lingkungan dan diri sendiri serta mampu membawa perubahan kea rah yang lebih baik. Dibandingkan Pendidikan pada masa pra kemerdekaan, Pendidikan saat ini tidak memandang hasil akhir sebagai acuan keberhasilan dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran tidak lagi bersifat linier akan tetapi berupa siklus yang berbentuk spiral mengarah ke perubahan baik. Pada Pembelajaran yang bersifat linier hasil akhir mutlak digunakan sebagai acuan kelulusan, sementara pembelajaran yang bersifat siklus artinya baik pelaksanaan, penilaian semuanya adalah satu kesatuan yang dapat digunakan sebagai parameter kelulusan.

Memandang proses sebagai indicator peninilaian merupakan pengejawantahan dari “ing madya mbangun karsa”. Di tengah menguatkan adalah orientasi growth mindset atau maindset berkembang. Guru mengelola siswa supaya memiliki pemikiran yang menunjukan sikap ingin terus belajar. Motivasi ingin terus belajar dapat ditumbuhkan dengan mengelola pembelajaran yang membuka pikiran siswa sehingga siswa tidak menutup diri untuk terus mengoreksi keterbatasanya. Keterbatasan siswa dianggap sebagai kemungkinan kelemahan yang harus di gali lagi peluang-peluang untuk menjadi kelebihanya.

Kurikulum di Indonesia mengalami dinamika yang luar biasa akan tetapi jiwa dari Pendidikan Indonesia tetaplah berporos pada budaya yang sama yaitu pemikiran yang dikembangkan oleh pejuang Pendidikan Indonesia. Salah satu pejuang Pendidikan itu ialah Ki Hajar Dewantara.


 

 

REFLEKSI DIRI TERHADAP PENGALAMAN BERSEKOLAH

 

 

Pada saat saya masih berada di bangku SMA kelas X saya terkena penyakit mata yang sangat menyulitkan saya untuk belajar sehingga ketika memasuki kelas XI saya sangat lemah dalam beberapa mata pelajaran seperti kimia dan fisika. Saya masih meraskan bekas penyakitnya sampai mendekati kelas XII hingga pada momen tertentu saya memutuskan untuk mengejar ketertinggalan. Moment yang sangat menginspirasi saya adalah moment ketika saya mendengar beberapa nasehat dari seorang guru. Salah satu nasihat yang masih saya ingat adalah tentang pentingnya olahraga pagi sebelum berangkat sekolah. Beberapa kata yang sederhana namun didengar tepat ketika saya sedang membutuhkan dorongan. Meski tidak terlihat hubungan yang jelas antara belajar dengan olahraga pagi akan tetapi setelah saya jalani saya merasakan banyak perubahan. Meski mata saya sulit untuk melihat terlalu lama tulisan bukan berarti saya harus membiarkan diri tanpa solusi. Saya memilih untuk melatih fisik agar ketika belajar badan menjadi lebih bugar dan lebih fokus menerima pelajaran.

Banyak ketertinggalan yang harus di kejar dan saya hanya mengandalkan belajar dengan metode dini hari supaya selepas Isya saya bisa beristirahat. Menurut saya belajar pada waktu dini hari terbukti efisien meski hanya 2 atau 3 jam. Meski hanya mengandalkan waktu dini hari saya pun turut mencari tahu banyak penyelesaian soal melalui internet. Beberapa vonis yang sangat membuat kecewa adalah saya diprediksi gagal lulus SMA. Terutama oleh guru kimia yang sebenarnya saya sangat memperhatikan pemaparanya. Namun berkat rasa percaya diri yang mulai tumbuh pada akhirnya saya mampu memperbaiki nilai dan mendapat predikat yang memiliki nilai meningkat.

            Di sela-sela ketertinggalan saya dalam mata pelajaran, saya berusaha menghibur diri dengan sesekali menyambangi anak social yang berbeda topic bahasan. Dari sana saya menemui sosok guru yang unik. Saat itu saya masih dibangku SMA kelas XI, pada waktu itu saya mengambil kepeminatan sains. Disela-sela waktu istirahat saya selalu menyenpatkan diri untuk mampir di kelas social. Sambil pura-pura bertanya sedang ada kesibukan apa atau hanya sekedar mengajak teman-teman bermain gitar. Disisi lain saya berusaha mengikuti tema pembahasan pelajaran mereka, meski tak seberapa. Beberapa tema yang saya minati seperti bentuk permukaan bumi, bentuk kenampakan alam dan sejarah gunung berapi.

            Beberapa hal menarik seperti cerita tugas-tugas obeservasi lapangan dan ceramah-ceramah tentang keadaan alam disekitar sekolah sampai pada kelakarnya yang selalu kritis ketika bertanya kepada siswa selalu menjadi hiburan sekaligus dorongan untuk saya. Barangkali itulah yang menginspirasi alam bawah sadar saya untuk mengikuti jejaknya. Pada saat itu bukan kepada geografinya melainkan pribadinya yang unik. Beberapa fakta menarik setelah saya selesai studi S1 yaitu saat saya berkunjung ke rumah beliau untuk bersilaturahmi. Ternyata premis saya benar selama ini, beliau adalah aktivis pecinta alam IKIP Yogyakarta dan saya telah mendapati diri saya juga sebagai alumni Organisasi yang sama.

            Beberapa karakter yang disepuh di organisasi tersebut mengandung unsur penerapan ilmu Pedagogi yang sangat relevan dengan kepeminatan saya dibidang pendidikan olahraga. Tidak menutup kemungkinan saya pun melalui wadah dengan proses yang hampir serupa. Dengan tanpa mengatakan saya telah menduplikasinya sebenarnya saya dibentuk diwadah yang serupa. Beberapa pengalaman seperti mengadakan kelas, mentoring dan kegiatan luar ruangan sering saya lakukan sehingga menambah khazanah perjalanan saya dalam menggali mental atau jiwa siswa.

Untuk menjadi guru yang ideal perlu mempertajam kemampuan kognisinya yaitu kemampuan menghubungkan satu konsep dengan konsep lain sehingga muncul sesuatu yang unik dan menarik. Melalui berbagai perjalanan intelektual guru perlu menyadari bahwa tidak ada siswa yang perlu dipaksa untuk belajar tetapi juga tidak ada guru yang berlepas diri untuk tidak belajar mendalami jiwa siswa. Dengan tanpa diminta, seorang guru harus selalu mengevaluasi kemampuanya sehingga harapanya bisa menunjukan karakter ideal. Salah satu karakter yang baik adalah mengerti kemampuan kompetensi siswa. Dengan mengerti akan hal tersebut seorang guru dalam praktiknya selalu memperhatikan tingkat pencapaian siswa sehingga siswa dapat menjalankan tugasnya sesuai kapasitasnya.


 

 


 

REFLEKSI DAN PEMAHAMAN BARU

Kurikulum adalah bagian teknis dari penyelenggaraan Pendidikan sementara konsep dan teori selalu berakar pada filosofi Pendidikan yang pernah dicetuskan oleh para pendahulu pejuang Pendidikan. Pendidikan selalu berakar pada kodrat alam dan kodrat zamanya, maksudnya adalah factor yang mempengaruhi tumbuh kembag anak baik dari pikiran maupun tindakan adalah factor tempat dimana anak itu dibesarkan serta berada.

Pendidikan olahraga merupakan bidang yang berorientasi pada perkembangan gerak siswa. Melalui domain psikomotor siswa dididik supaya memiliki pengetahuan dan sikap yang baik. Domain tersebut apabila dikaitkan dengan filosofi yang menjadi rujukan KHD maka berada pada olah rasa dan raga. Melalui olah rasa dan raga siswa diharap mampu menggali potensi dirinya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa olah raga adalah media yang digunaakn untuk mengembangkan kemampuan dasar siwa berupa kognitif, psikomotorik dan afektif.

Olah raga dengan tambahan kata pendidikan merupakan bentuk lain dari olahraga sebagai pendidikan. Tentunya pendidikan olahraga tidak semata mengajarkan kemampuan motoric atau kognitif akan tetapi terdapat kemampuan afektif yang perlu dikembangkan berupa penerapan nilai-nilai budi pekerti.

Pancasila sebagai pengikat dari sapu lidi merupakan peribaratan akan kondisi alam dan zaman di Indonesia yang beraneka ragam suku, budaya dan adat istiadat. Melalui pancasila setiap individu dapat memaknai nilai-nilai yang sesuai dengan keadaan alam dan budayanya. Sehingga tidak menutup kemungkinan ikatan dari sapu lidi tersebut menjadi obsesi dari pendidikan saat ini yaitu profil pelajar pancasila.

Saat ini pendidikan harus terintegrasi denga profil pelajar pancasila. Wacana tersebut bukan merupakan slogan saja akan tetapi guru sebagai stalkholder pendidikan harus benar-benar memahami dimana penghayatan nilai tersebut dapat di implementasikan. Pendidikan yang sesuai dengan wacana implementasi profil pelajar pancasila tentunya bukan doktrinasi melainkan refleksi yang dihadirka dalam diri siswa.

Mengapa orientasi pendidikan harus mengintegrasikan dengan profil pelajar pancasila. Hemat kami adalah kemampuan kognitif saja tidak cukup untuk menjadikan individu siswa mampu bertahan di tengah terpaan peradaban abad 21 yang mana kemampuan IQ tidak lagi dijadikan parameter kesuksesan. Individu yang memiliki kecerdasan emosional lebih mampu beradaptasi di era abad 21 karena kebijakan yang dihadirkan didalam diri mampu membimbing individu untuk keluar dari berbagai masalah kehidupan. Kecerdasan emosional merupakan kemampuan individu dalam memenejemen emosi dan tidak hanya tahu harus berbuat apa akan tetapi tahu harus kemana.

***